top of page

MERO BLOGSPOT & ARTICLES

Plastik vs. Bakteri Laut: Pertarungan Kecil dengan Dampak Besar

Creator: Alvanza Qurandiva Ranandya

Published: 09 Februari 2026

Indonesia dikenal sebagai negara maritim dengan lebih dari 17.000 pulau dan 76,94% wilayahnya berupa laut. Di balik kekayaan laut yang luar biasa, kita menghadapi ancaman serius yaitu polusi plastik. Berdasarkan Zahra et al. (2024), setiap tahunnya, Indonesia menghasilkan sekitar 8,96 juta ton plastik, dan sekitar 620 ribu ton di antaranya berakhir di laut. Menurut hasil penelitian internal yang dilakukan oleh tim MERO pada tahun 2020-2024, empat materi plastik yang paling umum ditemukan di lingkungan laut meliputi polietilena (PE), polipropilena (PP), polietilena tereftalat (PET), dan nilon. Meskipun plastik sangat sulit untuk terurai, beberapa komunitas mikroba menunjukkan potensi untuk mengurai plastik.

​

Salah satu jenis plastik yang paling banyak digunakan dan paling sulit diurai adalah LLDPE (Linear Low-Density Polyethylene). Plastik ini umum digunakan untuk kantong belanja, kemasan fleksibel, dan lapisan pelindung karena sifatnya yang lentur dan tahan lama. Namun, justru karena itulah, LLDPE sangat tahan terhadap proses degradasi alami. Ketika terbuang ke laut, LLDPE bisa bertahan bertahun-tahun dan berpotensi berubah menjadi mikroplastik yang lebih sulit ditangani.

​

Pengalaman pribadi saya saat mengikuti program MERO Foundation Scholarship 2025 selama enam bulan, dan sejujurnya, awalnya saya tidak menyangka bahwa mikroorganisme bisa memiliki peran dalam isu lingkungan. Di laboratorium mikrobiologi, saya diperkenalkan pada berbagai bakteri laut yang disimpan dalam MERO Culture Collection, sebuah koleksi yang berisi lebih dari 500 jenis bakteri yang diambil dari berbagai organisme laut seperti nudibranch, bryozoa, dan sponge. Koleksi ini bukan hanya arsip biologis, tetapi juga sumber daya penting untuk riset mikrobiologi dan eksplorasi potensi bioteknologi laut di Indonesia.

​

Kegiatan riset yang berjalan adalah uji konsorsium dua bakteri laut yang diambil dari bryozoa dan nudibranch. Keduanya dipilih karena hasil uji kompatibilitas menunjukkan bahwa mereka dapat tumbuh berdampingan tanpa saling menghambat. Dalam eksperimen ini, kami menginkubasi plastik jenis LLDPE (Linear Low-Density Polyethylene) yang telah disterilkan bersama kedua bakteri tersebut selama 21 hari.

Pastic-Degrading Bacteria.jpeg

© MERO Foundation

Apa itu konsorsium bakteri?

​

Sederhananya, konsorsium adalah kerja sama antara dua atau lebih jenis bakteri yang saling mendukung dalam menjalankan fungsi tertentu. Dalam konteks ini, kedua bakteri tersebut bekerja bersama untuk mengurai plastik. Masing-masing bakteri punya kemampuan sendiri, tapi ketika digabungkan, mereka bisa saling melengkapi. Misalnya, satu bakteri mungkin lebih cepat menempel di permukaan plastik, sementara yang lain lebih aktif menghasilkan enzim pengurai. Dengan membentuk konsorsium, efektivitas proses degradasi bisa meningkat dibandingkan jika mereka bekerja sendiri-sendiri.

​

Dalam eksperimen ini, setiap minggunya kami melakukan pengambilan sampel plastik untuk dianalisis. Sampel tersebut dibersihkan, dikeringkan, lalu ditimbang secara berulang untuk mendapatkan hasil yang akurat. Penurunan berat plastik tercatat sebesar 0,0115% pada minggu pertama, meningkat menjadi 0,0146% di minggu kedua, dan mencapai 0,0323% di minggu ketiga. Pengamatan mikroskopis menggunakan SEM (Scanning Electron Microscope) menunjukkan bahwa permukaan plastik yang awalnya halus mulai mengalami kerusakan, seperti munculnya retakan, lubang, serta koloni bakteri yang diduga membentuk biofilm.

​

Eksperimen ini membuktikan bahwa konsorsium kedua bakteri yang diambil dari bryozoa dan nudibranch mampu mendegradasi plastik LLDPE secara perlahan namun nyata. Meski penurunan beratnya masih kecil, tren peningkatan pada hari ke-21 menunjukkan potensi besar untuk dikembangkan. Dengan dukungan riset berkelanjutan, pengembangan teknologi, dan kolaborasi lintas sektor, mikroorganisme laut bisa menjadi bagian dari solusi nyata untuk mengurangi dampak plastik di laut. MERO Foundation terus berkomitmen untuk mengeksplorasi potensi mikroba laut sebagai bagian dari strategi bioteknologi lingkungan yang berkelanjutan.

 

​

​

​

References

Zahra, Y., Yu, J., and Liu, X. 2024. How Indonesia’s Cities are Grapping with Plastic Waste: An Integrated Approach Towards Sustainable Plastic Waste Management. Sustainability, 16: 1-32.

bottom of page